CARA PASANG TARIF VIDEOGRAPHER BUAT PROJECT CORPORATE (BIAR NGGAK RUGI)
Written by Yudi Suarbawa / 6 Minutes Read
Tim TDR FILMS melihat banyak videographer pemula ragu saat harus memasang tarif videographer corporate untuk pertama kali, padahal klien corporate punya pola kebutuhan yang bisa dihitung dengan jelas. Project corporate biasanya melibatkan lebih banyak proses persetujuan dibanding klien individu. Videographer yang memasang tarif terlalu rendah di awal sering kesulitan menutup biaya revisi dan birokrasi tambahan ini.
Photo by Kyle Loftus from Pexels
KENAPA TARIF VIDEOGRAPHER CORPORATE LEBIH TINGGI DARI KLIEN BIASA
Klien corporate sering butuh beberapa lapis persetujuan sebelum hasil akhir diterima, mulai dari tim marketing sampai manajemen senior. Setiap lapis ini menambah waktu kerja videographer di luar jam syuting.
Videographer yang belum memahami pola ini sering kaget saat diminta revisi berkali-kali tanpa biaya tambahan.
KOMPONEN YANG WAJIB MASUK HITUNGAN SEBELUM PASANG HARGA
Hitung dulu waktu syuting, waktu edit, dan waktu revisi standar, biasanya satu sampai dua kali tanpa biaya tambahan. Revisi di luar jumlah itu sebaiknya sudah dicantumkan sebagai biaya tambahan sejak kontrak awal.
Tambahkan juga biaya lisensi penggunaan ke tarif videographer corporate yang dipasang. Klien corporate sering memakai video untuk iklan berbayar atau presentasi internasional, bukan cuma media sosial biasa.
CONTOH RENTANG TARIF VIDEOGRAPHER CORPORATE UNTUK FREELANCER PEMULA
Untuk video profil perusahaan sederhana, tarif videographer pemula wajar berada di kisaran Rp5 juta sampai Rp12 juta. Project yang mencakup wawancara eksekutif, multi-lokasi, atau lisensi iklan bisa naik ke Rp12 juta sampai Rp30 juta.
Videographer baru sebaiknya mulai dari project corporate skala kecil dulu, misalnya testimonial karyawan, sebelum mengambil project company profile penuh.
CARA MENANGANI NEGOSIASI SAAT ANGGARAN KLIEN TERBATAS
Klien corporate sering punya anggaran tetap yang sudah disetujui sebelumnya. Negosiasi biasanya soal cakupan kerja, bukan soal angka tarif itu sendiri.
Tim TDR FILMS selalu menawarkan dua opsi cakupan kerja saat anggaran klien terbatas, bukan langsung menurunkan tarif videographer corporate yang sudah dihitung. Videographer pemula bisa pakai pola yang sama: kurangi cakupan, bukan kurangi harga.
CARA MENJAGA HARGA TETAP KONSISTEN DI MATA KLIEN BESAR
Klien corporate sering membandingkan tarif videographer dengan tarif production house besar, padahal kualitas dan pengalaman keduanya berbeda jauh. Videographer tidak perlu menyamakan harga asal terbukti lewat portfolio.
Tim TDR FILMS sudah menangani project corporate untuk klien seperti Bell Textron dan SGi Aero. Pengalaman itu menunjukkan tarif videographer corporate yang dihargai klien besar datang dari kejelasan cakupan kerja sejak awal, bukan dari angka paling murah. Videographer pemula yang menerapkan kejelasan ini sejak project pertama akan lebih siap menghadapi klien corporate berikutnya.











